Senin, 13 Januari 2014

Sepucuk Hadiah Untuk Hari Ibu

Selamat Hari Ibu, bu! 

Embedded image permalink



Yah, aku tahu seharusnya setiap hari adalah Hari Ibu. Tetapi, tak ada salahnya kan jika aku ikut merayakan Hari Ibu Nasional seperti yang lain? Maka dari itu, aku mengirimkan surat ini untuk ibu. Meskipun rasanya konyol aku repot-repot meminta tolong pada Pak Pos untuk memberikan surat ini untuk ibu yang serumah denganku. Tetapi, justru itulah kejutannya. 


Unik, kan? Menurutku sih begitu. Yah, jika dipikir-pikir daripada memberi mawar, aku khawatir tangan ibu yang halus nan suci itu (aku boleh menggombal, kan, bu? hehe, ayolah… sekali ini saja :p) dilukai oleh durinya yang tajam. Sia-sia saja dong label romantis si mawar merah jika akhirnya menyakitkan? Indahnya hanya sesaat, nyerinya terasa setiap saat. Aku juga tidak mau di Hari Ibu, ibu terharu ketika aku memberikan bunga mawar dilengkapi untaian kata-kata manis, tetapi di hari-hari selanjutnya aku menyakiti ibu dengan duri yang keluar dari mulutku atau kelakuanku. Berarti, aku sama saja dong dengan bunga mawar itu. Itu sebabnya mawar bukanlah kado yang bagus bagiku. 



Aku terpikir opsi lain. Cokelat. Ah, cokelat memang favorit ibu! Tapi… tunggu, aku teringat diagnosa--atau lebih tepatnya kutukan, menurutku--dokter beberapa hari yang lalu yang diceritakan oleh ibu sendiri tentang alergi. Ibu memberitahuku daftar pantangan makanan yang dikatakan dokter, cokelat termasuk ke dalam daftar itu. 
Yah… tidak jadi deh menghadiahi ibu makanan berbahan dasar cokelat :( Maaf, bu, aku lupa... jangan sedih ya, bu... 



Apa lagi yang dapat dijadikan hadiah? Buku? Aku memang sempat berpikir untuk membeli buku khusus tentang ibu di toko buku, tetapi ternyata suasana tak mendukungku. Aku tidak menemukan waktu yang tepat untuk kesana, karena sibuk di sekolah. Sekali lagi, maafkan aku, bu... Padahal voucher Gramedia-ku cukup untuk membeli beberapa buku. 



Setelah ketiga calon hadiah di atas resmi dicoret, aku kehabisan akal. Perlu waktu yang panjang memikirkan opsi baru dalam benakku. Lalu, terbersitlah ide surat ini! Surat yang kumuat oleh kumpulan kebohongan yang pernah kulakukan selama ini, atas dasar: 



1. Gengsi 
- Ibu: "Gimana pendapat kamu kalau ibu berpenampilan seperti ini?" 
- Aku: "Hmm, biasa aja." / "Jelek." 
Tahukah ibu, sejujurnya aku ingin memujimu, melontarkan kata cantik. Tapi, entah kenapa lidahku serasa beku, dan yang keluar malah kata-kata itu. Sekarang aku sadar kalau itu efek dari gengsi yang berlebihan. Setan telah berhasil menjajah lidahku secara brilian. Bahkan aku pernah memakimu dengan kata-kata kotor dalam bahasa Inggris. Anakmu ini benar-benar diperdaya oleh setan. Dan aku malu dan menyesal karenanya. Itu berarti aku telah mengecewakanmu, bu. Aku pantas menerima apapun konsekuensi yang kudapat nanti. Ternyata aku lebih buruk daripada mawar yang baru saja kucela bahkan tanpa memberikan mawar padamu, bu. 
Tetapi ajaibnya, mengapa ibu masih saja memberi pengertian dan maaf untukku? Ah, sepertinya nama ibu layak masuk dalam Guiness Book of Record sebagai manusia berhati paling lapang sedunia. 



2. Sombong 
Selama ini aku selalu berpikiran bahwa aku lebih pintar dibanding ibu dalam hal apapun.Sehingga aku tak jarang meremehkan nasihatmu. Dangkal sekali pikiranku, hanya mentang-mentang aku ini juara kelas permanen saat SD dan IQ diatas rata-rata?! Padahal jelas-jelas ibu berani menasihatiku karena ibu sendiri sudah merasakan pahit-asam-manis-asin kehidupan lebih lama dariku, kan? Jadi, tentu saja nasihatmu tak main-main karena berasal dari pengalaman, dan aku tahu pengalaman adalah guru yang paling baik. Maaf aku terlambat berpikir sejauh itu, bu. 



3. Marah 
Setiap kali ibu curhat tentang masalahmu juga penyakitmu (sebelum periksa ke dokter) dan mulai mengoceh tentang pergi, kematian... 
aku langsung membalas dengan sikap yang ganas. Aku marah dan menggerutu tak jelas. Itu semua semata-mata tindakan antisipasiku untuk menutupi kesedihan yang menyesak. Bagaimana jika ibu meninggal... itu yang ibu katakan. Dan aku spontan panik dan membayangkan hal-hal negatif alih-alih berusaha tak mau memikirkannya. Jadi, pelampiasannya sebentuk kemarahan yang bahkan nyatanya tak berhasil membuatku berhenti mengkhawatirkanmu. 
Please, bu, aku mohon jangan sekali-kali membicarakan kematian di depanku, apalagi terkesan mengharapkannya. Aku tak tahan, bu, demi apapun. Tidakkah ibu ingin bersama anak-anakmu di dunia ini se-lama mungkin? Ataukah ibu sudah sangat kecewa padaku hingga memilih pergi? Oh, sekedar menuliskan 'pergi' saja bagai disuruh menjawab 40 soal matematika! 
Jika mungkin itu alasannya, aku akan merubah diri sesuai apa yang ibu inginkan segera setelah ibu selesai membaca surat ini. Aku janji, bu. Yang penting ibu melupakan urusan kematian itu dan pasrahkan saja kepada Allah. Yang penting ibu menikmati waktu bersamaku. 



Ya, itulah pengakuan dosa terbesar yang pernah aku ungkapkan terhadap ibu yang sudah kusadari. Dengan surat ini sebagai bukti, aku akan menghapus ketiga sifat jelek itu dalam daftar sifatku demi ibu dan tentunya demi diriku sendiri. Semoga di hari-hari selanjutnya aku semakin peka pada kekuranganku yang lainnya, dan mengoreksi diri lagi, demi menjadi anak yang ideal di mata ibu. Doakan aku selalu ya, bu. Karena doa ibu lah yang bagaikan kereta kelas eksekutif yang paling cepat sampai pada Allah. 



With bunch of love, 
your daughter 



PS: tampar saja aku dengan surat ini jika aku kedapatan mengingkari janji di dalamnya. Tapi mudah-mudahan tidak. Ini untuk jaga-jaga saja.




Surat ini diikutkan untuk Kontes Menulis Blog "Sejuta Cinta Untuk Ibu" di http://www.perempuan.com/