Weronika POV
“Hei ! Bisakah kalian
tak berteriak sekencang itu? Gendang telingaku seperti ingin pecah, you
know?!” aku menggerutu. Aku benar-benar heran dengan keempat soulmateku
itu. Sejam yang lalu mereka sangat antusias berkeliling festival ini,
sepuluh menit yang lalu mereka memarahiku tanpa alasan yang jelas, dan
lima menit yang lalu setelah sekelompok lelaki itu mendekati mereka,
well ingin mengajak mereka berkenalan –mungkin- mereka malah terlihat
seperti sedang melihat setan. Lalu, sekarang mereka baru saja screaming saat para lelaki itu menjelaskan siapa mereka sebenarnya. Huh, aku sangat tak mengerti jalan pikiran mereka.
“Ti… tidak.. we.. wero. Sebenarnya—“ Ya Tuhan, apakah sahabat-sahabatku mendadak terkena penyakit gagap bersamaan? Oh, tidak.
Kualihkan
pandanganku sesaat pada sekelompok pria yang mahir menembak tadi.
Kulihat pria yang berambut pirang membisikkan sesuatu kepada pria yang
berambut keriting coklat. Dan seketika mereka tertawa. Lalu, pria
lainnya seperti ingin tahu apa yang mereka bicarakan, dan kali ini
mereka semua tertawa bersamaan. Pria yang berambut hitam lurus
sampai-sampai memgangi perutnya agar tawanya tak meledak.
Di sisi lain, keempat sahabatku menatap para pria itu tajam dan mendengus keras.
“Apa
yang kalian tertawakan, hah?” Skyler mulai bersuara lagi. Lagi-lagi
jika ia berbicara, pasti diawali dengan bentakan. dasar Skyler Samuels
si Miss Cruel -_-
“Hahahaha, bukan apa-apa.” Kata si rambut pirang sambil terkikik kecil.
“Aku tahu kau bohong, blondie”
“Gosh, don’t call me blondie.
Oke, aku hanya membuat lelucon saja. Agar kami bisa sedikit terhibur.
Kau tahu? Jujur, kami bosan sekali berbincang dengan kalian, para gadis
angkuh.” Kata si pirang seraya menekankan kata “angkuh”.
“Dan penakut, hahaha” lanjut si keriting tanpa dosa.
Tatapan
tajam Skyler sekarang beralih pada wajah polos si keriting itu. Pria
berambut keriting coklat itu hanya cengengesan saja. Oh, sekarang aku
tahu apa yang terjadi sebenarnya. Sahabat-sahabatku mengira mereka
adalah sekelompok gangster yang akan berbuat macam-macam kepadaku. Dan,
sekarang sekelempok pria yang tergabung dalam Band kecil yang bernama
“One Direction” itu menganggap anggota genk-ku gadis aneh dan lucu. Uh,
aku jadi merasa minder karena baru menyadari hal itu -,- Stupid.
Skyler
mulai menghampiri si keriting itu masih dengan tatapan elangnya sambil
melipat kedua tangannya di dada. “Apa maksud perkataanmu itu, Mr. Curly?” gertaknya.
“Oh, maksudku itu kalian berempat adalah gadis-gadis aneh. Sok bersikap arrogant eh..
tapi ternyata, kalian penakut. Itu kenyataan bukan?” ucap si keriting
itu dengan nada yang tenang sekali sambil menunjukkan wajah innocentnya.
Mendengar penjelasan si keriting, bukan hanya Skyler saja yang naik
darah – namun Kay, Hailee, dan Kara juga. Nampak sekali mereka
tersinggung. Well, sepertinya hanya aku saja yang tak terlibat dalam
masalah ini. Syukurlah.
“Apa katamu?! Coba katakan sekali lagi!” sentak Kay dengan wajah merah padam.
“Hei,
hei, hei.. sudahlah… kalian ini seperti anak kecil saja. Harry,
janganlah kau membuat masalah ini semakin besar.” Tiba-tiba pria yang
berambut coklat lurus mencoba melerai mereka.
“Iya, benar. Lebih baik kita saling meminta maaf saja. Habis perkara bukan?” lanjut si rambut hitam lurus.
Kali
ini, Aku angkat bicara juga, “Ya, sehingga kita semua bisa berteman.
Setidaknya berteman lebih baik daripada bertengar, kan?” tandasku. Ah,
aku tidak percaya kali ini aku dapat berkata bijak.
Sahabat-sahabatku
terlihat sedang menimbang-nimbang perkataan para pria itu. Kemudian,
Kara berbisik kepada Kay, Hailee, dan Skyler. Mereka mengangguk-angguk
dan Kay menggumam.
“Baiklah, kami juga minta maaf” ungkap
Kay dan menjulurkan tangan kanannya kearah si pirang. Dengan antusias,
si pirang menjabat tangan Kay, “Salam kenal. Aku Liam Payne.”
“Kay Panabaker.”
Setelah para pemimpin memulai,
kami semua mengikuti. Ternyata, si keriting itu bernama Harry Styles,
si rambut hitam Zayn Malik, sedangkan si rambut coklat bernama Louis
Poster, dan yang terakhir Niall Horan.
“Ya, kau benar.
Kami memang bersikap terlalu berlebihan kepada kalian,” kata Skyler
disaat ia sedang berjabat tangan dengan Harry yang sempat membuatnya
emosi. “Tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa aku masih jengkel kepadamu.”
Kulihat ketika ia berkata, eh lebih tepatnya mengancam –mungkin-
tangannya mencengkeram tangan Harry kuat. Sontak Harry mengerang
kesakitan.
“awww…! Santai saja, cruel. Kau hampir membuat jariku patah!”
“haha,
ternyata kau pria yang lemah.” Balas Skyler dengan senyum mengejeknya.
Sedangkan Harry mencibir. Aku yang berada di samping mereka hanya bisa
mendesah melihat kelakuan keduanya.
***
Masalah selesai, acara perkenalan sudah dilakukan, dan sekarang kami tenggelam dalam obrolan yang tak ada habisnya di basecamp One Direction – yang awalnya disangka basecamp gangster
oleh keempat sahabatku itu :P. Aku sedikit heran karena sepertinya kami
cepat sekali akrab walaupun sempat mendapat insiden kecil. Skyler dan
Harry-pun sudah lebih baik dibanding tadi.
“Bytheway, what time is it?” Tanya Niall mengalihkan pembicaraan kami.
“jam
07.40 pm. Ada apa?” jawab Hailee sambil mengunyah permen karetnya.
Tiba-tiba sekumpulan lelaki yang dalam waktu singkat sudah menjadi teman
akrab kami –One Direction—saling bersitatap. Dari raut wajahnya, mereka
seperti terkejut.
“Damn! 20 menit lagi!” pekik Liam. Ia
tiba-tiba saja beranjak dari duduknya dan tergesa-gesa memakai jaket
hitamnya. “ayo, guys. Tunggu apalagi? Kita segera berangkat!”
Kemudian,
Zayn, Niall, Louis, dan Harry mengikuti apa yang diperintahkan sang
pemimpin bandnya itu. Mereka bergegas menuju pintu, dan menarik kenop
pintunya lalu keluar begitu saja tanpa memedulikan Aku dan yang lainnya.
“Hey, tunggu! Mau kemana kalian?” Aku eranjak dan menyusul mereka keluar. Refleks, yang lainnya-pun mengikutiku.
“Ah,
dasar gadis-gadis pelupa,” desis Liam. “Dari awal aku sudah bilang kan
kami mempunyai suatu pertunjukkan di panggung Festival Grand Prairre
ini?”
“Hm… ya. Dan kalian akan perform jam 8 pm, sebentar
lagi. Apakah kami boleh ikut?” ujar Kay dan direspon dengan anggukan
mantap oleh para “One Direction”.
“Tentu saja”
to be continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar